Jurnal IT: Pro dan Kontra Data Digital dengan Data Konvensional
Banyak hal yang dibahas mengenai kontroversi seputar topik atau tema data digital dengan data konvensional. Ini berkaitan erat dengan behaviour suatu kebudayaan masyarakat yang dinamis dan statis.
Data dalam bentuk digital mempunyai tingkat fleksibilitas dan mobilitas yang tinggi. Ini dikarenakan data digital tersebut mudah dibawa kemana-mana.
Namun di sisi lain ada hal lain yang tak terbantahkan pula bahwa data dalam bentuk tercetak memiliki kenyamanan bagi pembacanya. Data tercetak dapat dibaca sambil tiduran, di taman, atau bahkan ketika kita di kamar kecil.
Sementara data digital ketika kita harus membaca minimal kita harus menyalakan monitor. Bagi kaum muda itu mungkin hal yang menyenangkan, sedangkan untuk pembaca yang lain hal ini kurang begitu nyaman.
Ada satu hal penting yang saling melengkapi di antara kedua bentuk pilihan tadi bahwa, ketika data-data tercetak mengalami degradasi kualitas kertas, maka data digital datang untuk menyelamatkannya.
Seperti yang terjadi di Inggris baru-baru ini, buku-buku tua milik perpustakaan Inggris yang notabene jumlahnya diatas angka ratusan ribu mengalami pelapukan kertas yang tidak dapat dihindari.
Buku-buku tersebut yang dibuat pada abad 18 dan 19 akan dialihkan ke dalam bentuk digital atau digital jurnal. Ini merupakan suatu langkah evolutif inovatif dalam rangka menyelamatkan dokumentasi penting suatu peradaban manusia.
Jadi data digital dan data versi cetak merupakan dua hal yang saling melengkapi satu sama lain dan tidak saling menggantikan.
Kalau boleh jujur saya memilih, saya akan memilih data yang dicetak daripada data digital. Kenapa? Karena saya akan membacanya sambil ngaso atau tiduran atau juga baca sambil cemilan, daripada saya membaca sesuatu harus selalu menyalakan monitor.
Cuman berhubung sekarang bulan puasa ya paling tidak membaca sebuah jurnal sambil ngabuburit. Tidak bareng cemilan. Walaupun pada akhirnya ketiduran.
***
Bayu N. Saputra



