Peternakan Ayam Tanpa Limbah, Seperti Apa?

Ayam petelur dan broiler di Indonesia yang masing-masing sekitar 85 juta ekor dan 917 juta ekor menghasilkan ekskreta feces dan urin sebanyak 63.964 ribu ton per hari.

Sementara ternak ruminansia seperti sapi potong, sapi perah, kerbau, kuda, kambing dan domba menghasilkan kotoran tidak kurang dari 53.53 juta ton per tahun. Besarnya limbah dari kotoran ternak ini tentunya menimbulkan berbagai dampak negatif jika tidak dikelola dengan baik. Sebaliknya, jika diberdayakan dengan baik maka produk buangan tersebut justru menjanjikan pundi-pundi pendapatan tambahan yang cukup besar bagi para peternak. H. Masngut Imam Santoso dari Blitar Jawa Timur dan Rachman dari Medan Sumatera Utara  telah membuktikan hal tersebut. Kedua praktisi perunggasan tersebut mengemukakan pengalaman mereka dalam memanfaatkan limbah ternak, dalam sebuah seminar tentang pengembangan peternakan tanpa limbah yang diselenggarakan Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian UNS Surakarta awal September lalu.   Selain Masngut dan Rahman, hadir pula dalam acara itu Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan  Dr. Kusumo Diwyanto, Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Yogyakarta  Prof. Tri Yuwanta dan  Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Deptan  Ir Rismansyah Danasaputra. Seminar dipandu oleh Direktur PT Lembah Hijau Multifarm  Suharto, MS.   Budaya menyinergikan usaha peternakan, tanaman pangan, perkebunan, dan perikanan yang diwariskan para nenek moyang ternyata masih merupakan solusi terbaik untuk mengatasi problem limbah peternakan. Ini merupakan sistem yang sangat efisien dan mempunyai banyak nilai tambah. “Kotoran ternak dapat untuk menyuburkan tanah dan dapat pula dijadikan pakan ikan,” tandas Masngut. “Beternak harus satu paket. Ada sapi potong, perah, ayam, lele, dan sawah.   Saya telah mempraktikkannya,” jelas pemilik Santoso Farm ini. Peternak layer asal Blitar ini kini setiap hari memproduksi 25 ton pupuk dari kotoran sapi dan ayam. “Kalau dalam satu bulan, satu hektar lahan butuh 5 ton pupuk maka kami dapat memperbaiki tanah 150 hektar per bulan,” tutur Ketua Koperasi Serba Usaha Rukun Santoso ini.   Konsep budidaya peternakan Santoso Farm adalah mengubah limbah pertanian menjadi pakan ternak dan mengubah limbah peternakan menjadi sumber daya hara bagi tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, maupun perikanan guna mencapai keadaan zero waste dan peternakan ramah lingkungan. Peternakan ayam petelur dikelola secara terencana dan tertata sehingga menghasilkan keterpaduan dengan unit perikanan.    “Kotoran ternak dan wadah telur bekas dijadikan media penumbuh ceremendhe (sejenis serangga) yang mampu menjadi pakan lele sehingga menghemat biaya pakan,” ungkapnya. Sementara itu untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak sapi potong dan perah, Santoso Farm membuat pabrik pakan sendiri dengan memanfaatkan limbah pertanian seperti jerami padi, pucuk tebu, tebon jagung, jerami kacang tanah dan sebagainya. “Selain kualitas konsentrat dapat konsisten, pabrik ini juga dapat  membuka lapangan kerja serta menciptakan efisiensi biaya pakan karena menggunakan formulasi pakan yang ideal,” sambungnya lagi.   Senada dengan Masngut, Presiden Direktur PT Mabar Feed Indonesia Rachman mengungkapkan bahwa pola pertanian terpadu merupakan konsep pertanian yang berorientasi masa depan, berwawasan lingkungan, bernilai sosial, efisien, dan memiliki produktifitas tinggi serta menghasilkan nilai ekonomi. Mabar berbasis pada industri perunggasan dengan  mengembangkan usaha di bidang pakan, breeding, usaha peternakan layer, budidaya udang windu dan pabrik pakan udang.   Perusahaan ini memanfaatkan ternak ayam yang mati selama budidaya sebagai pakan ikan, melakukan dekomposisi kotoran ternak menjadi pupuk organik dan menerapkan biological treatment pada usaha budidaya udang windu.   Pemberian ayam mati pada ikan melalui proses perebusan menyebabkan hilangnya sumber penyakit yang berasal dari bangkai dan memberikan pakan berkualitas bagi ikan. Sedangkan  pupuk organik telah menyumbangkan kesuburan tanah bagi para petani jeruk, markisa, dan sayuran di Brastagi, Medan.    “Tak ayal bukan hanya perusahaan yang menikmati, tetapi masyarakat petani yang selama ini berkutat pada  sistem budidaya konvensional mampu diberdayakan sehingga alih teknologi demi efisiensi, efektifitas dan produksi tinggi dapat tercapai,” tutur Rachman. Sementara biological treatment merupakan konsep yang menjadikan lingkungan tambak sebagai awal kehidupan udang menentukan produktifitas serta kualitas udang yang dihasilkan.   Penggunaan kompos dan dominasi bakteri yang menguntungkan menjadikan tambak sebagai sebuah ekosistem yang mendukung terbentuknya pakan alami udang dan terjamin kesehatan tambak untuk kenyamanan pertumbuhan si bongkok bercapit.


Sumber: www.poultryindoensia.com

3 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://netfarm.blogsome.com/2007/09/17/peternakan-ayam-tanpa-limbah-seperti-apa/trackback/

  1. efek dari peternakan ayam di desa kerjen bukan hanya menimbulkan dampak yang positif juda banyak negatifnya terutama pada limbah peternakan sapi yang terbuang di sungai dan sisa sisa susu yang ditolak ips dan di buang ke sungai mengakibatkan pencemaran lingkungan karena bau yang sangat ngenyengat yang diakibatkan susu yang membusuk,juga pada peternakan ayam yang mana kotorannya yang sangat mengganggu udara sekitar walaupun manfaatnya banyak untuk pupuk organik,menimbulkan lalat yang sangat berkeliaran,contok di daerah blitar tepatnya di srengat

    Comment by galijo — June 23, 2009 @ 3:55 pm

  2. Bagi anda yang ingin jadi pengusaha peternakan ayam, silakan hubungi saya, modal cuma 100 rb doank sudah bisa punya peternakan

    ayam, nggak perlu repot bikin kandang, nggak perlu repot merawat , nggak kena bau ayam, ayam nggak mudah kena penyakit dan nggak

    bakalan mati, keuntungan yg diperoleh maksimal tidak seperti usaha peternakan pada umumnya.

    “This opportunity is real, real business, real ranch, real chicken, real income”.

    Daripada 100 rb anda sia-sia hanya untuk belanja, habis dimakan dalam sekejap, atau di bank, habis dimakan bunga bank dll.

    Maka lebih cepat, lebih baik.

    kontak saya : globalwranch@yahoo.co.id

    Comment by Bambang — June 27, 2009 @ 8:18 pm

  3. saya ingin membuka uaha peternakan ayam petelur. tolong saya diberi informasi mengenai hal tersebut. Berapa modal awalnya (dalam skala kecil karena masih pemula).Bagaimana bentuk dan cara membuatkandangnya?

    Comment by thekde — October 31, 2009 @ 12:32 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


MENGUCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1430 H.

Google
 

hit counter
Blog Stat